- Ketika Prabu Salya Marah,maka Seisi Alam Hening,diam,seolah Takberani Bicara... — Ki Narto Sabdo
Sastra pewayangan menggambarkan bahwa emosi tokoh sebesar Salya mampu memengaruhi mikrokosmos (diri sendiri) dan makrokosmos (alam semesta).
Prabu Salya mewarisi Aji Candhabirawa dari mertuanya, Resi Bagaspati, seorang raksasa berbudi luhur yang ia bunuh demi gengsi kasta dan rasa jijik. Candhabirawa adalah ilmu berwujud raksasa kerdil yang jika dilukai akan membelah diri menjadi dua, empat, delapan, dan seterusnya hingga tak terhingga. Saat amarah Salya memuncak, bukan teriakan yang keluar,
Saat amarah Salya memuncak, bukan teriakan yang keluar, melainkan ketegangan batin yang luar biasa. raja Pandawa yang suci
Apakah Anda ingin mengeksplorasi lebih dalam tentang atau kisah tragis pembunuhan Resi Bagaspati yang menjadi akar kutukan ini? KI NARTO SABDHO - 'SALYA & SUYUDANA GUGUR' Saat amarah Salya memuncak
Kalimat ini menggambarkan kedahsyatan emosi seorang ksatria yang memiliki ilmu sakti tiada tanding, Aji Candhabirawa , yang dipopulerkan secara magis dalam suluk dan narasi maestro dalang legendaris Ki Narto Sabdo di YouTube .
Pada akhirnya, kemarahan dan kesaktian Candhabirawa hanya bisa diredam oleh sosok yang tidak memiliki hawa nafsu membunuh dan berdarah putih. Yudhistira (Puntadewa), raja Pandawa yang suci, maju menghadapinya. Candhabirawa tidak menyerang Yudhistira karena tidak menemukan setitik pun amarah atau niat jahat pada diri Puntadewa, hingga akhirnya ilmu tersebut meresap damai ke dalam tubuh Yudhistira dan membebaskan jiwa Prabu Salya dari kutukan masa lalunya.